Wow ! itulah kata pertama yang keluar di mulut saya ketika mendengar kabar bahwa 4 Desa di Indonesia masuk dalam Top 100 destinasi dunia ( 2019 Sustainable Destinations Top 100 ).

Kabar ini dirilis saat perhelatan Global Green Destinations Days  (GGDD) di Pulau Mali Lošinj  ,Croatia.  GGDD adalah program tahunan Global Green Destinations Foundation yang bertujuan memamerkan cerita sukses dan praktik pariwisata berkelanjutan dari destinasi pariwisata di seluruh dunia.

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dadang Rizki Ratman di Jakarta, Senin (28/10/2019) menjelaskan bahwa 4 destinasi tersebut mampu bersaing di level internasional karena memakai pedoman yang sudah berstandar internasional.

Empat Desa wisata di Indonesia yang masuk Top 100 Sustainable Destinations tersebut yaitu Desa Pemuteran (Bali), Desa Penglipuran (Bali), Desa Wisata Nglanggeran (Yogyakarta), dan Desa Pentingsari (Yogyakarta)

Desa Pemuteran Bali (Pemuteran Village – Bali)

Dua puluh tahun yang lalu, efek gabungan dari perubahan iklim dan kemiskinan serta praktik penangkapan ikan yang merusak sehingga menghancurkan tiga hal yang menjadi pusat mata pencaharian masyarakat: ekosistem terumbu karang lokal, perikanan, dan industri ekowisata lokal yang baru berkembang.

Menghadapi bencana, penduduk Desa Pemuteran dengan swadaya dan keinginan yang kuat merubah itu semua, mereka merehabilitasi terumbu karang lokal, memulai industri ekowisata lokal, menanamkan etika konservasi, dan menciptakan peluang ekonomi yang berkelanjutan untuk generasi mendatang.

Kini semua itu berubah dari salah satu desa nelayan termiskin di Bali menjadi proyek restorasi pembibitan terumbu karang terbesar di Bumi, sebuah model global untuk konservasi laut dan ketahanan masyarakat.

Desa Penglipuran, Bali (Penglipuran Village)

Di Desa Wisata Penglipuran, Bali, wisatawan dapat menikmati tata desa tradisional dalam suasana pedesaan yang indah. Apa yang membuat desa ini istimewa adalah campuran budaya dan adat istiadat yang unik, arsitektur tradisional dan alam yang subur berkat iklim yang sejuk, sungai, dan mata air.

Tata letak desa wisata (berdasarkan konsep Tri Mandala) menyajikan bangunan-bangunan tradisional yang terpelihara dengan baik, dengan jalan utama yang bebas dari mobil dan dilapisi oleh pepohonan dan bunga-bunga indah. Di dekatnya, hutan bambu seluas 45 ha yang seharusnya tidak dikonversi menjadi fungsi eksploitatif.

Desa Wisata Nglanggeran, Yogyakarta

Desa Nglanggeran, 22 km dari kota Yogyakarta, memang merupakan tempat yang unik: “Gunung Api Purba” atau Gunung Berapi Kuno seluas 48 hektar yang dibentuk oleh batu-batu besar dan menyerupai bangunan bertingkat, terletak tepat di tengah-tengah Desa.

Beberapa tahun yang lalu tidak ada kegiatan pariwisata di desa, Ngalanggeran hanya lah sebagai daerah yang gersang dan miskin.

Perubahan muncul dari organisasi pemuda yang mengelola kegiatan hutan. Pada akhir 1990-an, mereka mulai menanam pohon dan tanaman lokal di 48 hektar area gunung berapi dan di lokasi lain, sehingga mendorong bentuk melestarikan lingkungan.

Komunitas pemuda juga semakin peduli dengan penambangan batu, penggundulan hutan di daerah pegunungan dan bahaya urbanisasi yang semakin meningkat.

Pada 2015 kawasan itu menjadi salah satu Geosite, UNESCO Global Geopark di Gunung Sewu.

Desa Pentingsari, Yogyakarta.

Terletak di lereng salah satu gunung paling aktif di dunia, desa terpencil ini berpenduduk sekitar 390 jiwa, tetapi mereka memilikisemangat kepedulian terhadap alam, dan kearifan lokal yang diajarkan dan dijalankan oleh generasi sebelumnya serta para pemimpin masyarakat yang menyediakan kekayaan alam dan sosial yang berlimpah. kekayaan budaya, meskipun kondisi tanahnya tidak menguntungkan.

Awalnya desa ini tidak dikenal dunia luar, pada tahun 2008 gerakan akar rumput diciptakan dengan impian untuk membuka desa dengan menambahkan nilai pada kehidupan sosial, ekonomi dan budaya, sambil tetap mempertahankan tradisi, kearifan dan budaya masyarakat .

Namun, melibatkan penduduk lokal sebagai aktor utama dan petani menjadi penyedia layanan pariwisata tentu saja tidak memadai, karena desa tersebut kurangnya infrastruktur dan kemampuan SDM.

Kemudian melalui program pengembangan mitra untuk meningkatkan fasilitas , infrastruktur dan bantuan untuk pelatihan SDM, perlahan-lahan jumlah pengunjung telah meningkat dari 1000 menjadi lebih dari 25.000.

Masyarakat desa telah memperoleh penghasilan tambahan dan meningkatkan perekonomian tanpa meninggalkan desa, tanpa harus merusak lingkungan. , mampu mencegah arus urbanisasi bagi generasi muda, memberdayakan kelompok-kelompok perempuan, dan berbagai kegiatan ekonomi produktif, sambil mempertahankan budaya lokal.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *